#26haribertjerita : Tiga

Lima tahun lalu, sekitar bulan April atau Mei 2016 Irman mencekoki Gita, Untung dan Aku untuk pergi ke Jogja menemui penulis idolanya, Eka Kurniawan, yang diagendakan mengisi acara bincang buku di dua tempat: Radio Buku dan Gramedia Sudirman. Sebelum mengikuti acara tersebut. Irman menyarankan kami untuk mampir ke Toko Budi di Jalan Wachid Hasyim. Di tempat yang sama, terdapat tempat penerbitan buku kedai kopi bernama Dongeng Kopi Jogja. Irman mengatakan, menu yang sering diunggah di akun instagram Dongeng Kopi adalah apple cold brew.

Sesampainya di sana, aku terkesan dengan desain interior, mural, hingga menu yang ada. Siang itu cuaca cukup panas dan gerah. Irman memesan apple cold brew sedangkan aku entah memesan apa. Samar-samar ku ingat nama menunya adalah Dongeng Coffeelicious, segelas kopi dingin berwarna cokelat, di atasnya diberi serutan cokelat batang dan astor cokelat. Gita dan Untung tidak begitu berminat pada minuman kami. Mereka hanya menyesapnya sedikit saja. Itulah kali pertama aku nongkrong di Dongeng Kopi Jogja.

Kali ke dua aku ke Dongeng Kopi adalah ketika Pudi Jaya minta ditemani menghadiri sebuah adalah acara yang dihelat di Dongeng Kopi. Salah satu pengisi acaranya adalah Katrin Bandel. Ia ingin berbincang sebentar dan meminta nomor telepon beliau untuk kepentingan skripsinya. Sepertinya itu adalah akhir bulan. Kami tidak punya uang berlebih dan memutuskan memesan dua cangkir espresso. Kami kaget dengan kekuatan rasa espresso tapi sanggup menyembunyikan raut muka menahan rasa pahit.

Di lantai atas Dongeng Kopi adalah penerbitan indie di mana aku magang untuk riset mencari bahan skripsi. Aku jadi akrab dengan aroma biji kopi yang segar tiap kali aku membuka pintu dan beberapa barista di sana. Sesekali aku memesan kopi sebagai teman mengerjakan skripsi. Kadang apple cold brew, kadang cappucinno, kadang juga kopi single origin yang diseduh dengan metode v60. Sebulan sekali, Dongeng Kopi menggelar Kelas Seduh. Dulu, karena kelas tersebut berbayar aku tidak sanggup mengikutinya. Sekarang, saat Kelas Seduh bebas biaya (tapi ada seleksi dan hanya ada slot lima orang tiap kelas digelar), aku pun tetap belum bisa mengikutinya karena sudah tidak tinggal di Jogja.

Pernah suatu ketika, karena suatu hal, Dongeng Kopi pindah lokasi ke Jalan Palagan. Tak lama kemudian Dongeng Kopi sempat vakum menyeduh. Akhirnya, sekarang sudah beroperasi lagi di Jalan Grogolan, Wedomartani. Memang cukup jauh dari pusat kota Jogja, namun tempat ini menawarkan suasana tenang khas pedesaan. Ada ruangan bebas rokok dan ramah anak, dinding yang bebas digambari, dan lapangan basket mini. Oh ya, pasangan penulis yang sedang digandrungi warganet, Agus Mulyadi dan Kalis Mardiasih, pun dulu sempat menggelar acara syukuran pernikahan mereka di sini.

Tak hanya menyediakan kopi, minuman non-kopi, kudapan ringan dan makanan berat yang lezat. Tempat ini juga berafiliasi dengan toko buku sekaligus perpustakaan independen bernama ALIMIN dan toko suvenir TANDA MATA.

Jangan segan untuk bertandang kemari karena baristanya ramah dan selalu ada promo setiap hari!

Be the first to reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *