Hari Baik untuk Sapri

Matahari masih belum sepenuhnya berada tepat di atas kepala, namun panasnya begitu terik menerpa kami yang sedang mengelilingi sebuah liang kubur di pemakaman Mangunjaya, Tambun, Bekasi. Pagi itu, tak lebih dari sepuluh orang mengantar kepergian laki-laki sepuh yang diberi nama “Sapri” oleh petugas Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi. Pemakaman Sapri bisa dibilang “hening”. Tak ada tangis kehilangan dari keluarga maupun tetangga. Di akhir hidupnya Sapri tinggallah sebatang kara tanpa sanak saudara. Sapri tak punya siapa-siapa. Barangkali, hanya petugas wisma Social Care (SC) dan pekerja STPL yang masih berempati serta mau merawatnya, memastikan ia mendapat akhir hidup yang layak dan bermartabat.

Jenazah Sapri siap dikebumikan

Hari ini aku sebenarnya bertugas di Wisma Cempaka. Namun, berhubung lansia di Wisma Cempaka dianggap cukup mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri, aku memilih untuk membantu rekan sejawatku di Wisma SC. Lansia di Wisma SC kebanyakan sudah dalam kondisi bedridden, sehingga perlu bantuan untuk melakukan aktivitas sehari-harinya. Baru saja aku datang, Anjani keluar dengan mata berkaca-kaca dari sayap kanan (kamar lansia laki-laki) sambil membawa kabar duka,”Pak Sapri meninggal.” Sontak kami bergegas menuju sayap kanan. Jasad Pak Sapri sudah dingin dan badannya mulai kaku. Menurut penuturan teman-teman sekamarnya, Sapri telah meninggal sejak semalam. Sayang sekali, petugas penanggung jawab Wisma SC sedang dinas luar, sehingga proses pengurusan jenazah dipasrahkan kepada Budi yang sebenarnya bertugas sebagai cleaning service. Budi menelepon orang-orang yang berkepentingan atas administrasi, mengabari kawan-kawannya sesama petugas kebersihan di STPL supaya membantu membawa jenazah ke mushola untuk dimandikan, dikafani dan disalatkan. Elisabet–yang beberapa hari lalu sudah merasa bahwa Sapri sudah memasuki fase terminal– memberi instruksi untuk membenahi posisi tubuh jenazah. Memang posisi kedua kaki Sapri masih tertekuk, dan syukurnya aku masih bisa meluruskannya agar nanti lebih mudah untuk dikafani.

Para petugas membantu persiapan perawatan jenazah Sapri

Hampir dua minggu yang lalu saat aku pertama kali tiba dan langsung bertugas di Wisma SC, Sapri memang sudah terlihat lesu. Ia tidak selera makan, sering tidur atau tertidur saat disuapi. Tubuhnya begitu kurus, seperti tulang dibalut kulit dengan mata yang sayu. Awalnya aku hanya berpikir jika beliau sedang tidak nafsu makan. Namun setelah ada pergantian kelompok petugas dan kebetulan ada Elisabet yang memiliki latar belakang pekerja medis, kami jadi paham seperti apa fase terminal sebenarnya. “Ini tinggal tunggu waktu saja.”, kata perempuan asal Flores tersebut. Beberapa kawanku memberi penghormatan kepada Sapri dengan berurai air mata. Entah sedang membayangkan orang tuanya sendiri atau ikut haru melepas kepergian Sapri yang kini tak menanggung rasa sakit lagi.

Sapri dimakamkan di Pemakaman Mangunjaya, Tambun Selatan, Bekasi

BBPVP BEKASI
Kamis, 18 Desember 2025

Be the first to reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *