#26haribertjerita: Delapan Belas

Di kolong langit Indonesia, korupsi, kolusi, dan nepotisme bukanlah hal baru

Beberapa hari yang lalu ketika aku sedang membaca Max Havelaar, Bapakku sempat berkata,”Kalau sudah selesai jangan dikembalikan dulu ya, aku juga mau baca.”
Pada saat aku sampai di halaman 343, aku merasa sepertinya Bapakku tidak akan betah membaca kisah yang ditulis hampir dua abad lalu ini karena ada banyak narator, metafora, paragraf-paragraf rumit yang akan membuat dahi mengernyit atau membaca ulang, diksi yang tidak umum digunakan di zaman ini, penjelasan tambahan (yang belum tentu membuatmu paham), dan masih banyak lagi. Beliau pun menurut, terlebih setelah kuberitahu tebal buku ini nyaris 500 halaman.

Buku ini kupinjam Februari lalu dari perpustakaan pribadi milik Dyah Ayu Wyat Ratitya. Sebenarnya aku sudah sangat ingin memiliki buku ini sedari masih menjadi mahasiswa. Tapi selalu maju mundur untuk membelinya karena dibanderol dengan harga yang cukup untuk membiayai makanku selama tiga atau empat hari di Semarang. Alasan kenapa tiba-tiba aku merasa perlu segera membaca buku ini adalah cerita instagram Akbar Ridwan yang mengunggah ulang informasi bahwa kisah Saidjah dan Adinda telah difilmkan dan siap dirilis tahun 2021. Aku pribadi adalah jamaah “baca buku dulu sebelum nonton filmnya”. Maka dari itu memilih untuk meminjam buku ini

Nah, sekarang akan kuceritakan pengalamanku membaca buku yang ditulis oleh Eduard Douwes Dekker dengan nama pena Multatuli. Di atas sempat kusebutkan beberapa alasan sulitnya memahami buku ini, salah satunya ada banyak narator. Ada Drogstoppel, Stein, Max Havelaar dan Multatuli sendiri. Sepahamku, Drogstoppel menyuruh Stein untuk membuat cerita berdasarkan catatan-catatan yang dibuat oleh Sjaalman selama ia tinggal di Hindia Timur. Stein pun menulis cerita tentang Max Havelaar, seorang Asisten Residen yang jujur dan baru saja ditugaskan di Lebak. Havelaar menjadi narator yang bercerita kepada Verbrugge dan Duclari tentang bobroknya pemerintahan. Komposisi Stein (yang mengisahkan tentang Max Havelaar) beberapa kali diinterupsi oleh Drogstoppel karena tak kunjung menceritakan perihal kopi (atau lelang kopi? CMIIW). Ketika Stein menyelipkan Saidjah dan Adinda (aku harus bersabar menunggu selama 342 halaman sampai akhirnya bisa berjumpa dengan Saidjah), aku (dan Drogstoppel) juga tak menemukan kisah tentang kopi. Di akhir kisah Max Havelaar yang ditulis Stein, tiba-tiba Multatuli muncul mengambil alih narasi sebelum menutupnya.

Bagiku, buku yang dirilis pada 1860 ini adalah sebuah karya sastra jurnalistik yang disusun dari pengalaman Multatuli selama tinggal di Hindia Timur. Aku belum mencari tahu apa dampak yang timbul (khususnya di kalangan masyarakat Eropa) setelah buku ini terbit. Pramoedya Ananta Toer mengomentari buku ini sebagai “buku yang membunuh kolonialisme”. Aku–yang membaca buku ini satu setengah abad kemudian–mendapat wawasan tentang beberapa hal yang terjadi di tahun 1850-an sekaligus merenungkan hal-hal “buruk” dari masa lalu yang masih dilanggengkan hingga kini.

Di kolong langit Indonesia, korupsi, kolusi, dan nepotisme bukanlah hal baru. Tapi aku belum bisa memastikan hal ini mulai terjadi ketika Belanda datang atau memang sudah terjadi sebelumnya lantas diperkuat dengan keberadaan Belanda di Indonesia. Hatiku dongkol ketika membaca kisah Max Havelaar tentang para residen yang gemar melakukan mark up pada laporan keuangan. Lebih dongkol lagi ketika membaca kisah tragis Saidjah dan Adinda. Semakin marah karena pada masa tanam paksa rakyat pribumi kelaparan akibat setiap jengkal tanah ditanami komoditas bernilai tinggi seperti gula dan kopi sehingga tak banyak lahan tersisa untuk ditanami padi.


Aku suka pada sosok Max Havelaar. Sekalipun memegang status sebagai “pejabat Belanda”, ia adalah kaum minoritas karena berani melawan kesewenang-wenangan, ketidakadilan, serta merupakan pribadi yang “lurus” dalam menjalankan tugasnya sebagai Asisten Residen. Keputusannya meminta diberhentikan secara terhormat dari tugas sebagai Asisten Residen adalah keputusan yang tepat demi tegaknya martabat dan menjaga idealisme yang dianutnya.

Rumah, penghujung Juli 2021.

Be the first to reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *