Matilda

Memiliki orang tua yang tidak perhatian dan suka bersikap kasar adalah hal yang mengerikan. Hal semacam itul dialami oleh Matilda, gadis berusia lima tahun asal Inggris. Ibu Matilda, Mrs. Wormwood, tidak begitu memperhatikannya. Setiap sore ia meninggalkan Matilda untuk pergi bermain bingo (semacam permainan lotre) hingga malam. Ayah Matilda, Mr. Wormwood, juga tidak memperhatikan Matilda. Ia lebih sibuk memperhatikan usaha jual beli mobil bekasnya dan kakak Matilda, Mike, untuk meneruskan usahanya. Di mata kedua orang tuanya, Matilda seperti ketombe atau bisul yang mengganggu. Tanpa mereka sadari Matilda tumbuh menjadi anak yang cerdas, bahkan bisa dibilang jenius.

Tidak seperti kedua orang tuanya yang gemar menonton drama televisi, Matilda lebih suka membaca buku. Meski baru berusia lima tahun, ia telah membaca semua buku di perpustakaan umum di desanya. Minat bacanya begitu besar. Setelah menamatkan semua buku bacaan anak-anak, ia membaca buku-buku karya Ernest Hemingway, Charles Dickens, Jane Austen, Charlotte Bront—Ď, Rudyard Kipling, John Steinbeck hingga George Orwell. Tak hanya lancar membaca, ia bahkan lebih mahir berhitung dari pada kakaknya yang berusia dua tahun lebih tua darinya. Namun hal itu tak serta merta membuat kedua orang tua Matilda memperhatikannya, mereka justru tidak suka melihat Matilda gemar membaca. Mereka tidak suka Matilda menjadi kritis dan pintar, mereka ingin Matilda bodoh dan tidak tahu apa-apa. Kesal karena sering dikata-katai, Matilda pun memutuskan untuk membalas setiap kali orang tuanya bersikap jahat padanya. Karena kecerdasannya, Matilda mampu membalas (atau menghukum) orang tuanya secara diam-diam dengan hasil yang memuaskan.

Meski kemampuannya di atas anak-anak seusianya, Matilda tidak sombong apalagi pamer, ia tetap bersikap biasa saja. Tak ada yang bisa memahami kecerdasan Matilda sampai akhirnya ia masuk sekolah dasar dan bertemu dengan Miss Honey. Miss Honey begitu kagum dengan kemampuan Matilda dalam mengeja, berhitung, membaca hingga mengarang limerick (semacam sajak jenaka). Beberapa kali Miss Honey menguji Matilda dengan pertanyaan yang dirasa cukup sulit untuk dijawab anak seusianya dan ia mendapatkan jawaban yang memuaskan. Jelas bagi Miss Honey bahwa Matilda layak ditempatkan di kelas yang lebih tinggi, yang lebih cocok untuk tingkat kecerdasannya. Namun ide ini ditolak mentah-mentah oleh sang kepala sekolah. Ia mengganggap omongan Miss Honey adalah omong kosong.

Di sekolah, Matilda menemukan seseorang yang lebih mengerikan dari kedua orang tuanya yaitu kepala sekolahnya, Miss Trunchbull. Miss Trunchbull tidak suka anak-anak kecil. Menurutnya, anak-anak berumur lima tahun sama seperti tempayak yang belum menetas. Nasib murid-murid di kelas yang lebih tinggi pun tidak lebih baik. Miss Trunchbull gemar menghukum anak-anak dengan cara yang berlebihan dan cenderung kejam. Ia pernah mengurung Hortensia di dalam Pencekik (lemari sempit dengan tiga dinding semen ditancapi  pecahan kaca dan pintu dipasangi paku) karena Hortensia iseng, mencampakkan Julius Rottwinkle ke luar jendela kelas karena makan permen waktu sedang belajar, melontarkan Amanda Thripp ke lapangan olahraga karena mengepang rambut, hingga memaksa Bruce Bogtrotter memakan seloyang besar kue coklat karena Bruce mencuri sepotong kue miliknya. Trunchbull orang yang temperamental, suka bersikap kasar dan gemar memaki.

Setiap hari Kamis, Miss Trunchbull dijadawalkan mengajar di kelas Matilda selama satu jam pelajaran. Setelah terbiasa belajar bersama Miss Honey dengan cara yang menyenangkan, mereka terpaksa merasakan satu jam yang mengerikan bersama Miss Trunchbull. Ia tidak suka pada Nigel yang pintar dan kritis. Rambut Rupert dijambak karena tidak mampu menjawab perkalian dengan benar dan kedua telinga Eric dijewer karena tidak bisa mengeja kata what dengan baik. Ketika Matilda mengatakan sudah membaca Nicholas Nickleby, Miss Trunchbull menyebutnya pembohong. Suasana di kelas berubah menegangkan dan Miss Honey tidak bisa berbuat apa-apa.

Matilda merasakan kemarahan yang begitu besar pada Miss Trunchbull, terlebih ketika dituduh melakukan perbuatan yang tidak dilakukannya. Di tengah kemarahannya, tiba-tiba ia mendapatkan kekuatan supranatural. Dengan kekuatannya, ia mampu membuat Miss Truncbull ketakutan hingga meninggalkan kelas. Tak ada yang mengetahui bahwa Matilda memiliki kekuatan supranatural kecuali Miss Honey. Hanya pada Miss Honey Matilda mau menceritakan kekuatannya. Hal itu membuat Miss Honey tertarik untuk mengundang Matilda minum teh. Tentu saja Matilda senang sekali.

Matilda baru menyadari bahwa gurunya tinggal di sebuah pondok yang amat sederhana dan hidup begitu miskin. Ia penasaran bagaimana bisa Miss Honey hidup serba kekurangan. Rasa penasaran Matilda memuat Miss Honey menceritakan kisah hidupnya. Meski masih kecil, Matilda dapat memahami permasalahan apa yang diceritakan oleh Miss Honey. Lewat Miss Honey, Matilda akhirnya menemukan fakta mengejutkan bahwa Miss Trunchbull adalah bibi dari Miss Honey.

Tanpa sepengetahuan Miss Honey, Matilda merencanakan sesuatu yang kelak bisa membuat Miss Trunchbull pergi dari sekolah, membuat Miss Honey hidup lebih layak bahkan membuat Matilda hidup bahagia.

Be the first to reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *