long life learner

Afdeling Sirah Kencong

Afdeling Sirah Kencong

“Nduk, ana acara apa ora?”

“Enggak, Pak.”

“Ayo nang Sirah Kencong. Jarene saiki dalane wis rada alus.”

Sependek ingatan saya, Desa Sirah Kencong selalu identik dengan akses jalan yang buruk. Jalanannya sempit, berkelok-kelok, curam dan masih berupa jalan makadam. Nyali saya ciut, ajakan itu berarti saya akan mengendarai motor seorang diri sementara Romo dan Bunda akan berboncengan. Bayangan akan medan pegunungan yang membutuhkan kemampuan berkendara di luar kebiasaan  rupanya mampu tergeser oleh imbalan pemandangan yang akan saya dapat di sana. Toh,saya memang sedang membutuhkan udara segar setelah enam bulan terakhir terkontaminasi oleh riuhnya perkotaan yang sarat polutan.

Sekitar pukul 10.30 kami pun berangkat menuju Sirah Kencong via Kawedanan. Benar kata Romo, meski masih ada beberapa kilometer jalan yang berupa tanah dan kerikil , jalanan ini cukup mulus dibanding pengalaman pertama saya dulu ketika menuju Sirah Kencong via Desa Semen. Sepanjang perjalanan saya dibuat terpukau oleh hamparan perkebunan kopi, sengon, karet dan kanopi hutan yang semakin ke atas semakin rapat.

Setelah berkendara kurang lebih satu jam, kami pun tiba di PT. Perkebunan Nusantara XII Afdeling Sirah Kencong. Hamparan pohon teh yang berwarna hijau dan hawa dingin pegunungan menyambut kedatangan kami bertiga. Hanya ada beberapa orang yang berjaga di pos pintu masuk dan seorang perempuan yang menarik karcis masuk. Setiap pengunjung dikenakan biaya masuk Rp5000 saja, sedangkan kendaraan dikenakan biaya Rp2000 untuk motor dan Rp4000 untuk mobil.

Romo saya nampaknya sedang puber kesekian. Ketika kawan-kawan saya memutuskan untuk gondrong dengan alasan “mumpung masih muda”, beliau baru memanjangkan rambut monokromnya di usia 58 tahun. Dulu, jarang sekali beliau punya kesempatan untuk jalan-jalan karena kesibukannya sebagai seorang tenaga medis. Namun sekarang, dalam kurun waktu enam bulan beliau sudah melakoni perjalanan antar kota antar provinsi ke berbagai tempat dengan berbagai keperluan. Setelah memasuki masa pensiun, nampaknya Romo ingin membalas waktu-waktu yang tersita selama mengabdi kepada negara. Seperti plesiran semacam ini misalnya.

Sebagai pengikut, saya menurut pada perencana agenda dadakan ini. Waktu yang kami miliki terbatas karena tak lama lagi kabut akan segera turun. Di  antara kebun teh, candi, dan air terjun, beliau  memilih air terjun. Kami bertiga harus menapaki jalan setapak yang menanjak sejauh 500 meter untuk mencapai air terjun yang dimaksud. Sepasang suami istri itu terlihat romantis menapaki jalan sambil bergandengan, sementara saya sibuk mengabadikan momen dan pemandangan di kanan-kiri jalan. Sesaat sebelum memasuki air terjun, kami diminta membayar biaya masuk sebesar Rp4000.

Di manapun, air terjun ya air terjun. Ia mengalir dari ketinggian beberapa ratus  meter sebelum akhirnya jatuh. Kami sempat mencicipi air asli dari pegunungan Kawi itu. Rasanya dingin dan menyegarkan, bahkan Romo sempat berwudhu dengan air tersebut. Seperti masyarakat kekinian pada umumnya, kami berfoto dengan latar belakang pemandangan air terjun sebelum kembali ke area parkir. Di tengah perjalanan kembali ke area parkir, Romo melihat sebuah tebing dengan warna keabu-abuan tak seperti tebing lain yang berwarna cokelat atau hijau. Ia adalah seseorang dengan rasa penasaran yang cukup tinggi dan merasa harus segera mendapat jawaban atas rasa penasarannya. Tak segan ia bertanya pada penjaga karcis masuk wisata air terjun perihal keanehan yang ia lihat. Konon, tebing itu adalah bagian dari gua Jepang tempat dilakukannya kerja paksa (romusha). Tiga dari sembilan akses masuk gua sudah dibersihkan dan kelak akan dibuka sebagai lokasi wisata.

Berkunjung ke perkebunan teh tak lengkap rasanya tanpa mencicipi secangkir teh khas daerah tersebut. Saya ingat, salah seorang kawan SMA saya tinggal di sini dan ibunya memiliki warung. Tak ada sinyal di ketinggian 1200 Mdpl, otomatis saya tak bisa memberi kabar pada kawan saya itu. Saya hanya bisa menebak-nebak sambil berharap bisa bertemu kawan yang sudah tiga tahun terakhir ini tak pernah saya jumpai.

Kami memilih untuk singgah ke warung Bu Kris dan duduk lesehan sambil menunggu teh yang kami pesan. Tempat kami duduk bersebelahan dengan dapur. Di situ saya melihat sosok jangkung dan kurus yang cukup familiar sedang sibuk mencuci piring dan gelas. Namun suaranya yang berat membuat saya tak yakin bahwa ia adalah Topo, kawan SMA dulu. Ketika ia berbalik barulah saya yakin dan berani memanggilnya,

“Topit!”

Ia terdiam cukup lama sampai akhirnya menyadari bahwa saya adalah kawan lamanya. Kami berjabat tangan, lantas ia pamit sebentar untuk meneruskan mencuci. Setelah kami menghabiskan separuh cangkir Ken Tea, Topo kembali menyambangi kami. Sebagaimana kawan lama yang jarang bertemu kami saling menanyakan kabar. Sebentar saja, obrolan kami sudah melebar ke gosip-gosip sekitar perkebunan. Saya dapat merasakan ada beberapa hal yang telah berubah dari desa di sudut kecamatan Wlingi ini. Desa yang dulu kerap disebut sebagai kawasan terpencil ini sudah semakin ramai, suhu sudah tidak sedingin dulu, bahkan beberapa bagian hutan sudah hilang.Salah satu bukit di desa ini sudah diratakan untuk dijadikan pabrik susu sekaligus peternakan sapi. Meski sudah dibangun selama tiga  tahun terakhir, tidak tampak adanya pembangunan yang signifikan meski kabarnya akan beroperasi pada 2020.

Dibesarakan di area PTPN membuat Topo sedikit banyak mengetahui perihal industri teh. Dulu, ketika di SMA ia sering dibully karena berasal dari desa terpencil, ia selalu membela desanya sebagai penghasil teh berkualitas. Dari Topo kami mengetahui bahwa meski teh di cangkir kami sudah terasa enak, itu hanya teh kelas II. Semua teh kelas I diekspor ke luar negeri. Proses pemetikan daun teh juga sudah berubah. Keberadaan pemetik teh sudah mulai tergusur dengan keberadaan mesin. Hanya kebun dengan barisan pohon teh kurang beraturan saja yang tehnya masih dipetik secara manual. Sebelum pamit pulang, kami menyempatkan membeli oleh-oleh tujuh kotak teh Ken Tea kemasan 100 gram yang dihargai Rp12.000 per kotak. Entah itu harga pasaran atau harga untuk seorang kawan. Topo dan Ibunya berkeras memberikan harga itu kepada kami.

Bertemu Topo hari ini sedikit banyak membuat saya bahagia. Lelaki yang telah menyelesaikan studi Ekonomi Pembangunan di salah satu universitas swasta di Kota Malang itu memang tidak banyak berubah, tetap ramah seperti biasa. Darinya kami menjadi lebih memahami seluk beluk industri teh dan “permainan” di belakangnya.

Rasanya suatu hari saya ingin kembali lagi ke sini, menuntaskan rasa penasaran pada beberapa objek wisata dan hal-hal lainnya.



2 thoughts on “Afdeling Sirah Kencong”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *