Ingatan Panjang tentang Bakso Pak Man

Verba volant, scripta manent. Kata-kata lisan terbang, sementara tulisan menetap. Begitulah peribahasa Latin yang ada benarnya. Semasa masih menjadi bocah sekolah dasar, Romoku sering memaksaku menuliskan kegiatan atau peristiwa yang aku alami. Aku memang tidak melakukannya dengan persisten, tapi toh aku masih menyimpan jurnal (agak geli sekarang jika menyebutnya diary) yang pernah kutulis dulu. Salah satu peristiwa yang terekam dalam jurnalku bertarikh 6 April 2005 adalah

“Hari ini aku pergi ke lapangan TENIS. Wah aku senang sekali apa lagi setelah itu makan baksonya Pak Man (Rumah Sakit) Kebetulan aku menulis di halaman The Prince of Tenis

Isi mangkuk baksoku: mi, tahu, bakso kasar, tetelan

Siapa karyawan, pasien, atau warga sekitar Rumah Sakit Ngudi Waluyo yang tak kenal dengan Bakso Pak Man? Bakso ini kerap jadi jujugan karyawan untuk makan siang atau pasien yang baru pulang berobat rawat jalan. Kadang karyawan rumah sakit menjadikan bakso Pak Man sebagai “traktiran” jika sedang berulang tahun. Sebagaimana langgam bakso Jawa Timur, bakso Pak Man bukanlah bola-bola daging yang diberi kuah saja, tapi juga diisi dengan instrument lain seperti mi, tahu, pangsit goreng, siomay, dan tetelan sesuai kegemaran pelanggan. Dari jurnalku dapat disimpulkan bahwa aku telah memvalidasi kenikmatan bakso ini sejak masih berusia 10 tahun. Bukankah anak kecil tidak pernah berbohong?

Sejak warungnya yang selama ini berada tepat di seberang Rumah Sakit Ngudi Waluyo tergusur akibat lahan di belakang warungnya hendak dijadikan kompleks perumahan, aku sungguh merasa kehilangan ‘ritual’ setelah kontrol berobat rawat jalan. Rasa rindu teramat sangat akan cita rasa kuah bakso yang gurih dan sedap, mi bihun yang lembut, tetelan yang kenyal, dan tentu saja tekstur bakso kasar yang sangat berkarakter membuatku (akhirnya) mencari lokasi terkini warung bakso Pak Man.

Dahulu warung Bakso Pak Man terletak di sisi kiri atau sebelah selatan halte bus RS Ngudi Waluyo

Ada yang mengatakan beliau pindah ke rumahnya di Kletek, ada pula yang mengatakan di daerah Kenongo. Rupanya sekarang warung bakso Pak Man berada tepat di seberang lapangan Kenongo. Warungnya sedikit lebih luas dibanding warungnya yang dulu berada di seberang rumah sakit. Aku memesan seporsi  bakso seperti biasa.  Tiba-tiba ingatan akan tarikh 6 April 2005 membuatku penasaran, sebenarnya sejak kapan Pak Man berjualan bakso di depan rumah sakit? Pak Man menjawab tanyaku sambil menunjuk bagian atas gerobak baksonya yang berwarna hijau, di situ tertera angka pada stiker yang sudah agak terkelupas:1990

Pak Man dengan keramahan dan kumis khasnya sedang melayani pelanggan

Sudah lebih dari 30 tahun Pak Man berjualan. Tiga dekade bukanlah waktu yang singkat.  Bagiku, warung bakso Pak Man bukan sekadar warung bakso yang memadamkan rasa lapar para pelanggannya. Di Pak Man para karyawan dapat melepas lelah dan saling berkeluh kesah masalah rekan kerja, rupa-rupa kelakuan para pasien, kebijakan instansi, maupun masalah pribadi. Para pasien,rawat jalan yang urusannya sudah beres dapat mengisi ulang energi sembari becengkerama dengan pendampingnya atau sesama pasien yang juga sedang mengaso. Entah tentang sakit yang tengah dialami, perkembangan kesehatan terkini, ruwetnya birokrasi, hingga hal-hal di luar itu.

Pak Man dan warung baksonya adalah saksi dinamika perkembangan Rumah Sakit Ngudi Waluyo Wlingi. Ada kalanya ia menjadi nostalgia bagi orang-orang yang pergi dan kembali. Bagiku, selain menjadi garda depan pemadam kelaparan, Bakso Pak Man patut menyandang gelar kuliner legendaris di area RS Ngudi Waluyo.

Be the first to reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *