Petualangan Mencari Tanda Tangan

Sekarang agaknya lebih mudah bagi para pembaca untuk mendapatkan tanda tangan dari penulis idolanya. Jamak ditemukan penerbit-penerbit yang menjual buku dengan sistem pra-pesan menawarkan buku yang akan terbit dengan harga diskon dan bonus tanda tangan dari penulis. Seringkali pula dijumpai penulis yang mengunggah kesibukannya menandatangani lembar halaman pertama buku baru mereka. Namun aku sekarang jadi penasaran, masih cukup banyakkah pembaca yang mengalami petualangan seru sebelum memperoleh tanda tangan di buku mereka, plus jika bisa berfoto dengan penulis idola? Setelah meihat-lihat ulang koleksi bukuku, ternyata aku sudah mendapatkan sepuluh tanda tangan penulis berbeda, tentu saja setiap tanda tangan memiliki ceritanya masing-masing. Seharusnya aku memiliki tiga belas buku bertanda tangan, namun kenapa sekarang hanya ada sepuluh nanti akan kuceritakan. Sekarang aku ingin bercerita tentang sepuluh buku yang ada terlebih dahulu.

3 Cinta 1 Pria – Arswendo Atmowiloto

Sejujurnya aku belum selesai membaca buku ini, pun tidak terlalu banyak membaca tulisan Arswendo Atmowiloto. Aku hanya merasa nama ini cukup familiar di telingaku ketika memutuskan membeli buku ini di pameran buku. Suatu ketika BEM di fakultasku mengadakan seminar yang sekarang sudah kulupa judulnya. Salah satu pematerinya adalah Arswendo. Aku pun mengikuti seminar tersebut dengan motivasi ingin bertemu Arswendo dan minta tanda tangan.

Hari itu pun tiba, di akhir seminar aku merasa campur aduk antara senang bisa bertemu penulis senior dan deg deg an ingin minta tanda tangan. Ketika keberanian dan rasa percaya diriku terkumpul, aku pun mencegat Arswendo lalu meminta tanda tangan. Sudah, begitu saja tanpa ada percakapan karena aku pun tak tahu ingin bilang apa. Tapi toh aku merasa puas bukuku sudah ditandatangani penulisnya. Pengalamanku minta tanda tangan pada Arswendo tak akan pernah kulupa, pasalnya itu adalah kali pertama aku minta tanda tangan pada penulis.

Lingkar Tanah Lingkar Air – Ahmad Tohari

Ketika SMA aku sudah jatuh cinta pada kisah Srintil dan Rasus dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Mengetahui HMJ ku akan berkunjung ke rumah Ahmad Tohari aku merasa senang. Aku pun pergi ke toko buku untuk membeli buku Ahmad Tohari yang kiranya harganya terjangkau untuk kantongku yang cekak lantas aku memutuskan untuk membeli Lingkar Tanah Lingkar Air. Buku ini nantinya akan kumintakan tanda tangan pada penulisnya. Selain harganya terjangkau, waktu itu (sekitar tahun 2015) buku ini buku baru. Aku juga suka dengan kisah dalam buku ini.

Di Banyumas kami pun mendengarkan kisah Ahmad Tohari tentang proses kreatifnya, mendengarkan pembacaan cerpen “Anak Ini Ingin Mengencingi Jakarta”, makan tempe bongkrek seperti dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yang ternyata enak sekali, antre minta tanda tangan, lalu mengakhiri kunjungan dengan foto bersama.

Perjumpaan: Santiago, Martin, dan Boja – Heri CS

Mas Heri CS adalah seniorku di jurusan Sastra Indonesia Universitas Diponegoro. Beda angkatan kami cukup jauh, namun dipertemukan karena ia akan meluncurkan sekaligus mendiskusikan buku kumpulan esainya yang berjudul Perjumpaan: Santiago, Martin, dan Boja. Ia bekerja sebagai jurnalis dan sering menulis esai. Aku suka tulisannya yang jernih dan jujur, rasanya aku ingin bisa menulis seperti beliau.

Sebelum didiskusikan buku itu harus didistribusikan ke pembicara. Nah, aku yang bertugas menyampaikan buku-buku terbitan Komunitas Lereng Medini ini. Ketika mengambil buku untuk pemateri, Mas Heri memberi satu eksemplar cuma-Cuma plus tanda tangannya.

O – Eka Kurniawan

Mendapatkan tanda tangan Eka Kurniawan untuk buku ini mudah, namun untuk bertemu Eka Kurniawan secara personal itu butuh perjuangan.

Aku, Irman dan Pudi kompak melakukan pra pesan buku berjudul O yang berbonus tanda tangan dan sepaket dengan kaus bergambar kover buku ini. Tahun 2016 sepertinya tahun di mana mulai ramai sistem pra pesan berbonus tanda tangan. Maka dari itu kukatakan tak perlu usaha keras untuk mendapatkan tanda tangan Eka Kurniawan.

Medio 2016 kami mendapat kabar bahwa Eka Kurniawan akan ke Jogja untuk melakukan bedah buku. Irman, sebagai penggemar karya Eka tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia mengajakku, Gita dan Untung untuk pergi ke Jogja. Kami sepakat berangkat dari Semarang dengan modal nekat. Perjalanan sekitar tiga jam kami tempuh dengan sepeda motor menuju Radio Buku di Bantul. Agak terlambat tapi kami masih dapat kesempatan untuk bertanya dan minta tanda tangan. Sebagai seorang penggemar, Irman membawa koleksi lengkap buku Eka Kurniawan yang ia miliki di rumah. Aku, berhubung hanya memiliki satu buku saja dan sudah ditandatangani memilih untuk minta tanda tangan di kaus O yang kukenakan.

Jangan Tulis Kami Teroris – Linda Christanty

“Jazirah di Utara”. Cerita pendek itu akan selalu terkenang untukku karena itu adalah karya Linda Christanty yang pertama kali kudengar langsung dari penulisnya. Pertama bertemu dengannya aku tak tahu ia siapa, padahal Irman terlihat bahagia ketika minta tanda tangan dan berfoto bersama. Setelah pembacaan cerpen di PKKH UGM itu aku baru mulai mengenal siapa sosok Linda Christanty lewat reportase “Hikayat Kebo”, buku  Seekor Anjing Mati di Bala Murghab dan buku Jangan Tulis Kami Teroris. Kelak aku bercita-cita ingin bisa menulis sebagus dirinya.

Pada tahun 2018 aku mengikuti lokakarya penulisan naratif yang diisi oleh Linda Christanty. Mengetahui hal ini aku tak lupa membawa serta buku Jangan Tulis Kami Teroris untuk dimintakan tanda tangan sang penulis. Aku benar-benar suka caranya melaporkan tentang GAM dan Aceh di buku ini. Selama dua hari yang menyenangkan aku belajar dengan Mbak Linda. Bagiku ia benar-benar sosok perempuan yang cerdas, ramah dan baik hati.

Na Willa 2 – Reda Gaudiamo

Setelah mengikuti lokakarya bersama Linda Christanty, aku dan beberapa kawan baruku sesama penerima Narrative Writing Scholarship berkunjung ke Post, sebuah toko buku kecil dengan dominasi warna kuning di Pasar Santa. Sudah lama sekali aku ingin berkunjung kemari dan akhirnya hari yang kudamba tiba juga. Di sana aku mengenali sosok Mbak Reda Gaudiamo (penulis buku Na Willa yang dulu dipinjamkan Acoy kepadaku) sedang mengobrol dengan Mas Teddy, pengelola Post. Kesempatan langka ini tak kulewatkan. Dari beberapa buku yang kubeli aku memilih Na Willa 2 agar aku bisa medapatkan tanda tangan dari Mba Reda. Karena Mba Reda begitu ramah ketika kumintai tanda tangan aku jadi tidak sungkan untuk meminta foto bersama.

Surga Sungsang – Triyanto Triwikromo

Aku punya banyak cerita tentang Pak Tri, maklum aku berguru padanya kurang lebih selama empat semester. Tapi meskipun kami berinteraksi cukup lama, aku baru benar-benar mengumpulkan niat untuk meminta tanda tangannya di akhir masa kuliahku. Siang itu aku memberanikan diri masuk ke kantor jurusan hanya untuk meminta tanda tangan beliau di buku Surga Sungsang. Tak kusangka Pak Tri malah memberi pesan (yang menurutku) begitu manis.

Manurung – Faisal Oddang

Barangkali aku bisa menyebutnya sebagai sebuah keberuntungan ketika berhasil menemui Faisal di Radio Buku. Sore itu Faisal ada acara bersama Romo Mario Lawi, sedangkan di tengah hari aku masih dalam perjalanan dari Semarang. Sesampainya di sana acara sudah usai, namun Faisal belum beranjak pergi. Aku pun langsung meminta tanda tangan pada buku yang sengaja kubeli di Semarang namun belum sempat kubaca tuntas itu. Sudah dari lama memang aku penasaran pada La Galigo. Sempat kukira Faisal dulunya mahasiswa peminatan filologi, namun setelah kutanyakan ternyata ia dari peminatan sastra.

Mengapa Aku Harus Membaca? – Abinaya Ghina Jamela

Mudah saja, aku tinggal mengirim pesan pada penerbit Gorga, mentransfer sejumlah uang, lantas beberapa hari kemudian datanglah satu eksemplar buku Naya lengkap dengan tanda tangannya. Dulu aku pernah bertemu Naya di tahun 2017, namun kami belum saling mengenal. Aku hanya mendengarnya membacakan beberapa puisi dari Resep Membuat Jagat Raya di Apresiasi Sastra. Sekarang kami sudah saling mengikuti di instagram.

Hidup Ini Brengsek dan Aku Dipaksa Menikmatinya – Puthut EA

Satu hari yang sempurna. Pagi hari aku membelinya di pameran buku Perang Cinta. Sore hari kubaca dalam sekali duduk. Malamnya aku mengikuti peluncuran buku di pameran yang sama bersama Mas Puthut dan illustrator buku tersebut, Mas Gindring. Acara berlangsung meriah dan sungguh kocak, tak lain tak bukan karena dipandu oleh seorang Agus Mulyadi. Senang sekali bisa melihat live show mural dan berdiskusi bersama. Setelah acara usai aku langsung menyambangi Mas Puthut dan Mas Gindring untuk minta tanda tangan.

Itu tadi kisahku dengan sepuluh buku dan sepuluh orang penulis, menyenangkan sekali untuk dikenang. Oh ya, aku masih belum menceritakan tiga buku lainnya. Baiklah, begini ceritanya.

Drupadi – Seno Gumira Ajidarma

Di Kampung Buku Jogja 2017 aku mendapat privilese untuk makan siang bersama Seno Gumira Aji Darma. Beberapa kawanku sudah bersiap membawa buku koleksi mereka untuk dimintakan tanda tangan. Sayangnya aku lupa kalau di kamarku ada buku Drupadi, dan baru mengingatnya sesaat sebelum kami berangkat ke rumah makan. Jarak dari rumah makan dengan rumahku sebenarnya cukup dekat, namun aku tak mau menyia-nyiakan momentum bisa bertemu penulis idolaku, Sukabku. Tak apalah aku tak mendapatkan tanda tangannya, setidaknya aku pernah makan siang dan foto bersama.

Inilah Esai – Muhidin M. Dahlan

Kala itu usiaku baru 23 tahun lewat beberapa hari, jadi kuminta Gus Muh menuliskan ucapan selamat ulang tahun juga selain membubuhkan tanda tangan. Namun sayang, buku ini hilang ketika aku melancong ke Solo. Aku pun membeli lagi buku ini namun kali ini tanpa tanda tangan Gus Muh.

Semasa – Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang

Beberapa hari sebelum aku diwisuda, Mas Teddy dan Mbak Maesy meluncurkan buku mereka yang berjudul Semasa di Jogja. Obrolan sore itu bersama Bernard Batubara asyik sekali meski aku belum membaca bukunya. Karena merasa tertarik, aku memutuskan untuk memilikinya. Tentu saja, berhubung ada penulisnya aku minta tanda tangan dengan pesan selamat wisuda. Buku ini kubaca dalam sekali duduk dan ternyata memang benar-benar memiliki kisah dan penceritaan yang bagus. Entah kenapa sesuatu mendorongku untuk memberikannya pada seseorang yang kusayang. Beberapa bulan kemudian aku membeli lagi buku yang sama karena bagiku kisah ini patut untuk dikoleksi.

Ya, memang disayangkan sekali dan entah kapan ada kesempatan berjumpa lagi. Tak apa, semua pasti waktunya. Ini petualanganku, bagaimana petualanganmu?

One thought on “Petualangan Mencari Tanda Tangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *