long life learner

Bulan: April 2017

Meneladani Literasi Kartini

Meneladani Literasi Kartini

I’ve write another thing about Kartini for Indie Book Corner’s blog . It based from what I’ve read from Panggil Aku Kartini Saja and Seri Buku Tempo: Gelap-Terang Hidup Kartini. This article was published on April 21, entitled Meneladani Literasi Kartini .

Selepas Menonton Kartini

Selepas Menonton Kartini

Air mata saya sudah menetes sejak adegan Kartini kecil meronta-ronta ingin tidur bersama ibu kandungnya, Ngasirah. Hal yang sama kembali terulang ketika melihat adegan Ngasirah membujuk Kartini agar mau menjadi Raden Ayu, kebebasan Het Klaverblad berkorespondensi dengan Mevrouw Ovink-Soer dibatasi oleh Slamet, Kardinah terpaksa menerima […]

I won’t get married, I prefer to be a nun.

I won’t get married, I prefer to be a nun.

Mulanya ia bertanya hal-hal remeh temeh seperti yang biasa ditanyakan gadis kecil berusia delapan tahun seumurannya. Namun saya tak menyangka ia akan mengeluarkan pernyataan yang menohok perasaan saya, gadis berusia 22 tahun yang tengah berupaya menyelesaikan skripsi dan tak lain tak bukan adalah tante dari pihak ibunya.

“Aku nggak mau nikah.”

Ketika ditanya apa alasannya ia menerangkan bahwa ia tak ingin memiliki ibu mertua galak seperti halnya yang sudah ia tonton di beragam sinetron di layar kaca. Ia memang gemar sekali menonton sinetron, mulai dari sinetron Indonesia, Filipina, India, hingga Turki. Semua tokoh hingga alur cerita, ia hafal betul di luar kepala. Tak ingin ia terjebak dalam stereotip yang tak bisa digeneralisir, saya mencoba mendebatnya.

“Lha emangnya Yangti galak sama Bude Dinda?”

“Enggak.”

“Emangnya Yangti galak sama Papahmu?”

“Enggak.”

“Nah, kamu ga pengen cari mertua yang kaya Yangti?”

“Pengen”

“Yaudah, berarti kan ngga semua mertua itu galak kan?”

“Pokoknya aku ga mau nikah. Mau jadi suster aja!”

Keengganan untuk menikah dan keinginannya untuk menjadi suster menutup perdebatan kami pagi ini. Segera saja kengerian muncul di benak saya. Dampak negatif media televisi baru saja hadir di depan saya. Kekuatan audio visual telah mencengkeram kepolosan keponakan saya sendiri.

Padahal, baru sehari sebelumnya saya membaca kisah-kisah yang membuat saya turut nelangsa pada apa yang dihadapi oleh perempuan-perempuan dalam kisah itu. Beberapa kawan saya yang sudah membaca kisah-kisah itu turut merasa nelangsa dan seakan enggan untuk menikah. Setidaknya berpikir masak-masak berulangkali sebelum memutuskan untuk menikah. Di saat kawan-kawan saya selalu mengeluhkan beratnya skripsi, menyatakan keinginan untuk segera menikah saja, hidup bahagia bersama suami dan mengurus anak-anak yang lucu, keponakan saya yang masih duduk di kelas 2 sekolah dasar telah begitu tegas menyatakan tidak ingin menikah.

It’s about flowers

It’s about flowers

Ada begitu banyak lagu, puisi, novel, dan karya-karya lain yang diksinya berkaitan dengan bunga. Mulai dari Bunga dan Tembok (Widji Thukul), Bunga di Tepi Jalan (Sheila on 7), Flower in The Desert (Dewa 19), hingga Fading Flower (Yuna). Bunga mawar, malah kelewat laris digunakan. Mulai […]

Berkomentar Queisha Pada Buku Pemenang Man Booker Prize 2016

Berkomentar Queisha Pada Buku Pemenang Man Booker Prize 2016

Syahdan, suatu sore yang basah di akhir pekan saya merebahkan diri di sofa ruang keluarga sembari menghadapi flu berat. Namun rasa pening di kepala dan ingus yang terus menetes tak mampu menghalangi saya untuk menuntaskan membaca Vegetarian, novel pemenang Man Booker Prize 2016. Tak berapa lama, […]

Sajian Bergizi dari Warung Hati

Sajian Bergizi dari Warung Hati

Sabtu, 1 April 2017.

Selepas mengucap salam perpisahan pada adik saya di bandara Juanda, saya kembali ke kota Surabaya. Tepatnya menuju C2O Library di Jalan Sucipto No. 22. Ketika masih dalam perjalanan, saya sempat melirik jam di layar smartphone. Pukul 13.30. Jika beruntung, mungkin nanti saya bisa tiba di sana kurang dari pukul 14.00 dan mungkin juga masih ada beberapa menu dari Warung Hati yang masih tersedia.

Setibanya di C2O Library, saya langsung menanyakan lokasi Warung Hati yang ternyata terletak di bagian belakang gedung. Ruangan bernuansa klasik itu nampak sepi, namun ada beberapa orang di balik tembok. Ketika saya menghampiri orang-orang yang sedang berdiri di balik etalase untuk memesan makanan, mereka menyambut  dengan ramah. Sayangnya, saat itu hanya tersisa Pad Thai , ayam pop,sambel lombok ijo, botok jagung muda, pepes tempe kacang merah dan es degan saja. Kue lumpur sorgum yang saya dambakan sudah habis tak bersisa. Karena lidah saya kurang njowo, pilihan saya jatuh pada Pad Thai dan es degan.

Sembari menunggu menu yang saya pesan tadi, saya menikmati desain interior Warung Hati. Sederhana dan klasik. Tak berapa lama pesanan saya datang. Raw Pad Thai yang saya pesan disajikan dengan begitu anggun dan cantik. Sekilas makanan ini terlihat seperti mi, namun sejatinya makanan ini terdiri dari wortel, kol ungu, timun zukini, paprika, selada, dan kacang-kacangan serta bumbu khas Pad Thai untuk disiramkan sekaligus memberi citarasa yang unik. Es degan yang saya pesan tak kalah enak. Air kelapa muda yang dipakai masih segar, daging kelapanya empuk dan lembut, sedangkan takaran gula merah yang digunakan terasa pas untuk mengobati rasa haus setelah menembus jalanan Sidoarjo-Surabaya yang padat.

Ketika hendak membayar, saya diajak duduk di salah satu sofa yang berada di sudut ruangan. Ia dengan ramah menanyakan komentar saya tentang menu yang saya pesan dan darimana saya mengetahui keberadaan Warung Hati. Tentu saya merasa senang sekali dapat menyampaikan kepuasan terhadap makanan yang sudah saya makan secara langsung. Saya sendiri mengetahui keberadaan Warung Hati lewat C2O Library melalui media sosial instagram. Benar-benar sebuah keberuntungan saya masih berada di Surabaya bersamaan dengan hari Warung Hati beroperasi. Sejauh ini Warung Hati hanya buka pada hari Sabtu saja, nanti jika sudah memiliki pegawai mungkin akan buka setiap hari. Begitu  penjelasan yang saya dapat. Hal lain yang membuat saya merasa patut mengunjungi Warung Hati adalah, menurut informasi di instagram bahan-bahan yang dipakai selalu terjaga kesegarannya. Terbukti benar adanya setelah saya mencicipinya secaralangsung.

Barangkali tempat makan ini dinamai Warung Hati karena setiap masakannya disajikan dari hati sang juru masak untuk membahagiakan hati si pelanggan.

APRIL FOOLS: Quick Escape to C20 Library

APRIL FOOLS: Quick Escape to C20 Library

Akhir pekan ini saya memiliki agenda perjalanan darat yang cukup ketat. Maraton dimulai pada hari Jumat sore dari Yogyakarta menuju Surabaya untuk mengucapkan “Sampai jumpa!” pada adik saya yang hendak melaksanakan on job training di Manado selama tiga bulan (baca: tidak bisa berkumpul ketika lebaran). Pada hari […]